MENGATUR WAKTU MAKAN, TIDUR DAN PEKERJAAN ISTRI DI LUAR RUMAH


MENGATUR WAKTU MAKAN DAN MENGATUR WAKTU TIDUR
Sebagian dari rumah kita berfungsi seperti hotel, penghuninya bersikap acuh tak acuk atau cuek (tidak mengenal satu dengan lain) dan sulit untuk saling bertemu apalagi ngobrol / berdiskusi masalah agama. Anak-anak makan dan tidur kapan saja mereka inginkan sehingga menyebabkan mereka terbiasa untuk tidur larut malam (begadang) dan menyia-nyiakan waktu dengan pekerjaan yang sia-sia, juga makan tanpa ada aturan serta etika yang baik.
Kekacauan sedemikian rupa menyebabkan runtuhnya tali ikatan persaudaraan, hilangnya semangat dalam diri dan waktu yang sia-sia serta membentuk jiwa tidak konsisten (istiqamah) dalam mengerjakan sesuatu. Ada yang berpendapat mengatakan, seorang anak yang sekolah atau kuliah waktu keluarnya dari rumah tidak bersamaan, laki-laki dan perempuan tidak apa-apa, demikian juga dengan pegawai, pedagang dan pekerjaan lainya.

Sungguh, perkumpulan bersama-sama dengan anggota keluarga saat makan adalah kenikmatan terbesar, menggunakan kesempatan untuk berkumpul dan mengetahui keadaan masing-masing juga mendiskusikan satu dengan yanglainnya sangat bermanfaat.

Bagi suami (pemimpin rumah tangga) selayaknya menentukan waktu kembali (pulang) ke rumah (berkumpulnya keluarga), dan meminta izin kalau mau bepergian (urusan mendadak), terutama bagi anak-anak dan salaing member tahu bila hendak pergi. 

Serta mengatur waktu tidur yang ideal untuk anggota keluaga tidak terlalu larut malam dan tidak terlalu cepet, sebaiknya (disunahkan) tidur selepas shalat isa. Lalu bangun di 1/3 malam untuk melaksanakan shalat berjama’ah. Setelah isa gunakan sedikit waktu untuk berdiskusi, membahas masalah pelajaran anak, masalah-masalah yang dihadapi anak.

MENGATUR WAKTU DAN MENELUSURI PEKERJAAN ISTRI ATAU ANGGOTA KELUARGA DI LUAR RUMAH
Syariat dalam agama Islam adalah saling melengkapi antara satu sama lain. Ketika Allah SWT memerintah para wanita dengan firman-Nya:
"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu"
(Al-Ahzab:33)
Maka Allah membuat ada orang yang wajib menafkahi mereka seperti ayah dan suami. Pada awalnya hukumnya, wanita tidak dibolehkan / dilarang bekerja di luar rumah kecuali karena suatu yang memang kebutuhan. Sebagaimana ketika Musa alaihis salam (AS) melihat dua anak perempuan orang shalih yang menahan kambing gembalaannya hingga pengembala-pengembala yang lain telah selesai

Musa menanyakan kepada mereka: "Apakah maksudmu (dengan berniat begitu menahan kambing)? 

Kedua wanita itu menjawab: "Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum para penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak / papa kami adalah orang tua yang lanjut usianya."." (Al-Qashash: 23)


Kedua wanita itu seketika langsung alasannya mengapa mereka keluar untuk mengembala ternak-ternak mereka, yakni karna wali (orang yang bertanggungjawab atas dirinya) tak mampu lagi bekerja dan member nafka bagi mereka karena usianya telah lanjut. Karena itu hendaknya kita selalu berusaha untuk menjaga agar wanita muslimah tidak bekerja di luar rumah, semampu kita dan terus berusaha.

Allah berfirman: "Salah seorang dari kedua wanita itu berkata:"Ya bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya"." (Al-Qashash: 26)
 
Kedua Wanita tersebut dengan berkeinginan untuk kembali ke rumah dan tetap selalu berada dirumah sehingga dirinya terlindungi dari kalkuan kejelekan serta gangguan yang bisa saja terjadi pada mereka jika bekerja di luar rumah. Ketika orang-orang kafir pada zaman ini membutuhkan wanita pekerja setelah Perang Dunia ke satu dan ke dua karna itu adalah untuk mengganti kekurangan laki-laki.

Jadi ada untuk wanita yang inggin bekerja di luar rumah: Sesungguhnya bekerjanya seorang wanita karna memang benar-benar alasan kebutuhan. Contohnya wanita menanggung dan menopang ekonomi keluarga setelah kematian ayah / suaminya atau tua renta yang tak sanggup bekerja lagi.

Kesimpulan: sebagian wanita bekerja diluar rumah untuk kebutuhan atau tujuan yang Islami seperti dakwah di medan pendidikan (mengajari anak-anak). Adapun akibat negatif dari bekerjanya wanita di luar rumah, akibat negative itu:
• Timbulnya bentuk kemungkaran, seperti ikhtilath (bercampurnya di antara laki-laki dan perempuan tanpa pembatas), yang berakibat saling berkenalan lalu melakukan khalwat (berduaan) yang pada akhirnya dapat berlanjut hingga ke perzinaan. 
• Tidak memberikan hak suami, serta meremehkan persoalan-persoalan di rumah dan melalaikan hak anak mereka. Dan inilah kebanyakan yang terjadi di masyarakat kita (hak ASI untuk anak dan kasaih saying berkurang bahkan menghilang)
Hilangnya hakikat laki-laki seorang pemimpin bagi kaum hawa.
bertambahnya beban fisik, tekanan pada jiwa serta saraf nya karna tidak sesuai dengan kodrat wanita. 

Karna penjelasan sedemikian rupa sebaiknya untuk para wanita selalu dirumah dan bekerja dengan tidak memaksakan diri (karna uang bukan segala-galanya dan uang tidak bisa membahagiakan) dan untuk para suami agar bekerja untuk menafkahi istri dan anggota keluarga. Bagi suami yang tidak menafkahi istri dan anak-anaknya maka mereka akan di minta pertanggung jawabannya atas tanggungannya.
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan daftar disini untuk berlangganan gratis melalui email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di See Look Book GRATIS 100%
 
Nama Bayi Perempuan © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top