WAJIB MENJAGA RAHASIA RUMAH TANGGA
Menjaga rahasia rumah tangga adalah kewajiban bagi seluruh anggota keluarga, dan tidak menyebar luaskannya keorang-orang atau kalangan umum. Masalah ini menyangkut beberapa hal, masala-malah yang sering di perbincangkan diluar rumah tetapi sebaiknya kita:
• Tidak memberitahu rahasia hubu-nngan in-tiem suami isteri.
• Tidak membawa keluar perselisihan atau percekcokan suami isteri.
• Tidak membeberkan kepada umum rahasia dan kekhususan apapun tetang keluarga, hal yang sepele/ biasa-biasa saja akan membahayakan rumah tangga / seseorang dari anggota keluarga.

Tidak Memberitahu Rahasia Hubu-nngan In-tiem Suami Isteri
Selayaknya seluruh orang tidak member tahu hubungan mereka dengan istri-istri mereka kepada orang lain atau teman-teman. Bagi yang memberitahu kepada kalangan umum maka nabi berkata:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

"Sesungguhnya di antara manusia/ orang-orang yang terburuk kedudukannya pada sisi Allah di hari kiamat yaitu laki-laki yang berhubunga dengan isterinya dan isteri yang berhubungan dengan suaminya, lalu ia memberitahukan rahasianya" (Hadits diRiwayatkan oleh Muslim 2597)


Makna يُفْضِي  " yufdhi" yaitu ia melakukan hubu-nngan in-tiem, percumbuan, percampuran dan persetubuhan antara suami dan istri. Seperti dalam firman Allah:

وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنكُم مِّيثَاقاً غَلِيظاً
"Bagaimana kamu mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur/ berhubu-nngan in-tiem) dengan yang lain sebagai seorang suami isteri serta mereka (istri-istri kalian) telah mengambil daripada kamu perjanjian yang kuat". (Surat ke-4 (An-Nisa') : Ayat Ke-21).

Diantara dalil pelarangan mengabarkan kepada orang lain tentang hubungan suami istri yang lain adalah hadits dari Asma' binti Yazid bahwasanya dia berada di majlis Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) sedang laki-laki dan para perempuan duduk bersama. Beliau bersabda:
-----
"Barangkali ada laki-laki yang mengatakan tentang apa yang ia lakukan dengan isterinya dan barangkali ada wanita/ perempuan yang mengabarkan tentang apa yang dia lakukan dengan suaminya. Maka orang-orang pun terdiam membisu.
Lalu saya katakan: "Ya (memang benar), demi Allah (bersumpah), wahai Rasulullah. Sungguh wanita-wanita melakukan itu dan lelaki-laki juga demikian (sama)".
Rasulullah berkata : "Jangan kalian semua lakukan, sebab hal itu sesungguhnya bagaikan setan laki-laki yang berjumpa dengan setan perempuan di jalan lalu dia menyetubuhinya (berhubungan ba-ddan) sedang orang-orang melihatnya".
Dalam riwayat Abu Daud dinyatakan: "Apakah ada diantara kalian, laki-laki yang apabila mendatangi istrinya lalu mengunci (menutup rapat-rapat) pintunya dan menghamparkan (menggunakan) kelambu sebagai penghalangnya dan dia bertabir dengan tabir Allah?"
Mereka menjawab: "Ya benar".
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) bersabda (melanjutkan perkataannya): "Setelah itu dia duduk lalu berkata: aku sudah melakukan begini dan telah melakukan begitu" .
Mereka terdiam, lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) menghadapi para wanita kemudian bersabda: "Apakah ada di antara kalian yang membicarakannya?"
Mereka semua terdiam. Kemudian bangkitlah seorang prempuan di atas salah satu lututnya lalu mendongakkan diri kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) sehingga beliau dapat melihatnya dan mendengar ucapannya. Lalu dia berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya laki-laki membicarakannya, demikian pula halnya dengan wanita-wanita".
Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) bersabda: "Apakah kalian semua tahu apa perumpamaan hal tersebut? Sesungguhnya perumpamaan hal itu adalah bagaikan setan wanita yang berjumpa dengan setan laki-laki di jalan, maka ia lampiaskan hajatnya (berhubungan ba-ddan) sedang manusia melihat kepadanya"
-----
Begitu bencinya Rasulullah terhadap orang yang membeberkan rahasia rumah tangganya kepada orang lain dan bagi orang yang membeberkan cepita di tempta tidurnya ditakutkan akan terjerumus ke dalam perzinahan yang nyata.  Karna sifat dasar manusia adalah selalu merasa tidak puas.



Tidak Membawa Keluar Perselisihan Atau Percekcokan Suami Isteri
Perkara yang dilarang untuk di umbar kesana kemari adalah percekcokan atara suami dan istri, pada banyak kasus justru menambah rumit masalah yang dihadapinya.

Pihak ke-3 akan ikut campur dalam percekcokan yang dihadapi oleh suami isteri sehingga pada sebagian besar orang  akan menambah masalah baru.

Jadi jalan keluarnya adalah -jika ada orang lain yang berkeingin untuk membantu, terutama orang dekat dengan keduanya belah pihak (suami dan istri)- Hendaknya tidak langsung ikut campur urusan tersebut kecuali karena ada alasan yang menjadi pihak ke-3 sebagai pendamai secara langsung agar hubungan rumah tangga menyatu kembali bukan malah memisahkan suami istri.

Ketika terjadi hal demikian maka lakukanlah sebagaimana yang diperintahkan Allah Shallallahu 'alaihi wa sallam (SWT) :

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُواْ حَكَماً مِّنْ أَهْلِهِ وَحَكَماً مِّنْ أَهْلِهَا إِن يُرِيدَا إِصْلاَحاً يُوَفِّقِ اللّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلِيماً خَبِيراً
"dan jika kaliian khawatir ada pertengkaran antara ke-2-nya, Maka kirimlah seorang hakam (juru pendamai) dari keluarga pria  dan seorang hakam (juru pendamai)  dari keluarga perempuan. Jika ke-2 orang hakam itu bermaksud untuk mengadakan perbaikan (perdamaian), niscaya Allah akan memberi taufik kepada ke-2 suami isteri itu".(Surat ke-4 [surat An-Nisa'] : Ayat Ke-35).

Tidak Membeberkan Kepada Umum Rahasia Dan Kekhususan Apapun Tetang Keluarga, Hal Yang dianggap Sepele tetapi Akan Membahayakan Rumah Tangga / Seseorang Dari Anggota Keluarga.
Perkara terakhir ini yaitu mengundang bahaya bagi terhadap rumah tangga atau salah satu dari anggotanya dengan menebarkan rahasia yang ada pada dirinya.

Ini tidak boleh, sebab dia terdapat di dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh (pula) membahayakan orang lain". Di antara contohnya (permisalannya) yaitu seperti yang tertulis di dalam firman Allah SWT:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَاِمْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئاً وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ
"Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan (contoh) untuk orang-orang kafir. Ke-2-nya berada di bawah pengawasan (penjagaan) dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami, lalu ke-2 isteri berkhianat kepada ke-2 suaminya...". (Surat ke-66 [At-Tahrim]: Ayat ke-10).


Ibnu Katsir dalam menyimpulkan tafsir ayat ini: "Isteri Nuh tersebut selalu mengintip (mencari tahu) rahasia Nuh, jika ada orang yang beriman kepada Nuh maka dia mengabarkan (memberitahu) kepada para pembesar kaum Nuh tentang keimanan (orang tersebut). Dan isteri Luth maka jika Luth menerima tamu pria, dikabarkannya hal itu kepada orang-orang yang biasa melakukan kejahatan (tidakan homose-x)", yakni agar mereka datang dan melakukan perbuatan homose-x (kejahatan pada masa itu yang dianggap lumrah) dengan tamu tersebut. 
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan daftar disini untuk berlangganan gratis melalui email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di See Look Book GRATIS 100%
 
Nama Bayi Perempuan © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top